Monday, May 5, 2025

Upaya Kolaboratif Wujudkan Pelajar Pancasila

 



Pelajar Pancasila merupakan sebuah konsep perwujudan pelajar Indonesia sebagai individu pembelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri utama: beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. Untuk mewujudkan hal tersebut, banyak upaya yang harus dilakukan sekolah untuk berproses menuju harapan tersebut, salah satu yang dapat dilakukan adalah tindakan kolaborasi dengan berbagai pihak yang dapat berperan serta mengembangan karakter Pelajar Pancasila.

Kolaborasi menjadi sangat penting untuk mencapai hasil terbaik saat menyelesaikan masalah yang rumit ataupun dalam mewujudkan sebuah harapan atau cita-cita. Berproses untuk kerja sama dalam menelurkan gagasan atau ide dan menyelesaikan masalah secara bersama-sama menuju visi bersama merupakan sudut pandang luas dari kolaborasi. Lembaga Pendidikan atau Sekolah sebagai sebuah organisasi yang didalamnya diperlukan kerjasama, kolaborasi menjadi kunci pemikiran kreatif. Agar kolaborasi dapat berhasil, perlu dilakukan identifikasi kapan dan bagaimana berkolaborasi, begitu pula pemahaman tentang mitra kerja sama yang dibutuhkan serta analisis kebutuhan lainnya yang menunjang proses tujuan yang diharapkan. Berkaitan dengan beberapa upaya menuju terwujudnya karakter Pelajar Pancasila, menurut penulis (dengan latar belakang Guru di SMK) penerapan konsep Tri Pusat Pendidikan di lingkungan sekolah perlu diselaraskan dengan kondisi terkini agar hal tersebut dapat terealisasi. Dalam berbagai tulisan, Tri Pusat Pendidikan masing-masing unsurnya dapat dijelaskan sebagai berikut, pertama unsur Sekolah yaitu manajemen sekolah, pendidik dan tenaga kependidikan, serta siswa, kedua yaitu unsur keluarga .seperti orang tua/wali murid/orang yang tinggal dalam satu rumah, ketiga yaitu unsur masyarakat seperti komite sekolah, lembaga-lembaga yang peduli dengan pendidikan, atau teknologi berkembang saat ini.

Pada unsur Sekolah, langkah awal dari upaya tersebut dapat berupa dengan menyelaraskan visi dalam manajemen sekolah untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila, yang dilanjutkan dengan penguatan pemahaman dan pengetahuan pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah dengan visi tersebut. Penguatan tersebut tidak cukup hanya dipahami saja, namun harus terinternalisasi pada perilaku serta sikap pendidik dan tenaga kependidikan dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di masyarakat. Konsep Ki Hajar Dewantara yang menyatakan bahwa guru berperan seperti petani dan bertugas menuntun peserta didik harus dapat diterapkan dalam setiap pembelajaran dan hubungan sosialnya di sekolah. Setelah kedua bagian dalam unsur sekolah tersebut, selanjutnya adalah siswa yang tidak lagi dijadikan objek dalam proses pembelajaran, namun sebagai salah satu kolaborator dalam proses belajar. Penggalian kondisi siswa dengan berbagai asesmen diagnostik dilakukan agar Guru memahami kebutuhan siswa sehingga pembelajaran berdiferensiasi dapat dilakukan. Namun untuk menjadi catatan bahwa pelaksanaan implementasi diatas tidak hanya dilakukan secara personal masing-masing guru, namun harus dilakukan dengan cara kolaboratif dan bekerja bersama untuk mencapai tujuan.

Dalam unsur Keluarga, didalamnya dapat diartikan sebagai orang tua atau wali murid atau saudara yang tinggal dalam satu rumah. Dalam keluarga khususnya yang berada dalam satu atap akan menjadi pengaruh atau contoh terdekat anak dalam berbagai perilaku, baik buruknya dapat ditiru jika anak selalu melihatnya dan mengalami peristiwa yang terjadi dalam satu rumah. Oleh karena itu, ilmu menjadi orang tua atau parenting dalam era saat ini penting untuk dipelajari dan dipraktekan. Orang tua menjadi Guru pertama bagi anak dalam belajar tentang hidup, pola asuh yang diberikan akan membentuk karakter dasar anak dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks hubungan dengan keluarga, sekolah diharuskan untuk berkomunikasi dengan kontinyu dengan orang tua agar pendekatan guru dalam memberikan dapat komprehensif dan sesuai dengan kebutuhan murid tanpa memaksakan kehendak kepada murid.

Kemudian pada unsur Masyarakat, mereka diwakili dengan Komite Sekolah, lembaga- lembaga yang peduli dengan pendidikan, serta teknologi yang berkembang saat ini. Unsur masyarakat ini harus mampu menjadi pendamping anak dalam proses pendidikannya, menjadi alat untuk berkomunikasi dengan unsur sekolah maupun keluarga. Mereka menjadi penjaga rel proses pendidikan tetap lurus dan tidak meleset keluar jalur, namun juga mendukung segala proses pembelajaran. 

Ketiga unsur ini harus memiliki sinergitas yang kuat untuk mendukung terciptanya Profil Pelajar Pancasila, karena itu kunci utamanya adalah komunikasi. Keterbukaan dan saling memahami menjadi alat pendukung berjalannya kolaborasi dengan kunci utama komunikasi. Dengan tetap cerdas dalam memahami setiap permasalahan, jujur dengan situasi dan kondisi yang terjadi, saling terbuka dan transparan dengan proses yang ada, serta dapat dipercaya untuk bersama- sama dalam proses, maka upaya kolaboratif yang bertujuan untuk mewujudkan Pelajar Pancasila dapat terwujud.

0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.