Saturday, November 29, 2025

Rekonstruksi Pengertian Bimbingan dan Konseling di Sekolah


Dalam keseharian sekolah, kita masih sering menemukan bahwa Bimbingan dan Konseling (BK) dipahami secara sederhana: ruang untuk “siswa bermasalah”, tempat “dipanggil guru BK”, atau sekadar tempat mencari solusi cepat ketika konflik terjadi. Cara pandang ini begitu melekat hingga membuat BK seolah-olah berada di pinggir sistem pendidikan, bukan menjadi bagian penting di dalamnya. Padahal, jika kita kembali pada tujuan pendidikan dan memahami BK melalui kerangka teori yang lebih utuh, seperti Taksonomi Bloom dan literatur BK yang telah berkembang, kita akan melihat bahwa BK memiliki peran yang jauh lebih penting daripada sekadar menangani masalah.

BK pada dasarnya adalah proses pendampingan dan pembentukan manusia. Ia hadir bukan hanya untuk membantu siswa keluar dari persoalan, tetapi untuk menuntun mereka menemukan cara hidup yang lebih baik. BK membantu siswa mengenal dirinya, memahami perasaannya, membangun kekuatannya, dan belajar menghadapi dunia dengan lebih dewasa. Dalam banyak kasus, BK bahkan menjadi ruang aman pertama yang dimiliki seorang anak di sekolah, dimana ini adalah ruang tempat mereka didengarkan, diterima, dan dipandu tanpa dihakimi.

Ketika kita melihat BK melalui kerangka Taksonomi Bloom, pemahaman ini menjadi lebih jelas. Bloom menjelaskan bahwa pendidikan bekerja melalui tiga ranah: kognitif, afektif, dan psikomotor. Dan jika kita mau jujur, BK sebenarnya telah bekerja di ketiga ranah itu sejak awal. Hanya saja, pemahaman kita tentang BK sering kali terjebak pada apa yang tampak di permukaan, bukan pada apa yang sesungguhnya terjadi di dalam prosesnya.

Di ranah kognitif, BK membantu siswa memahami diri, memikirkan pilihan hidupnya, serta belajar menganalisis situasi dan mengambil keputusan secara matang. Siswa dibimbing untuk tidak hanya tahu apa yang ia mau, tetapi juga mengerti mengapa ia menginginkannya. BK menuntun cara berpikir siswa agar lebih reflektif, tidak impulsif, dan lebih sadar akan konsekuensi tindakannya. Pada tahap inilah BK menjadi pendidik yang menajamkan nalar dan kesadaran diri.

Di ranah afektif, BK menyentuh aspek paling sensitif dari perkembangan manusia, yaitu perasaan. Penelitian tentang academic tenacity, growth mindset, dan academic buoyancy menunjukkan bahwa keberhasilan anak di sekolah sangat dipengaruhi oleh bagaimana mereka mengelola emosi, bagaimana mereka memandang diri sendiri, dan bagaimana mereka merespons kegagalan. BK menjadi tempat anak belajar bahwa gagal itu tidak apa-apa, bahwa kecewa itu manusiawi, dan bahwa ia tetap berharga meski sedang berada di titik sulit. Ranah afektif inilah yang menjadikan BK sebagai tempat penguatan mental, pembentukan karakter, dan pendampingan emosional.

Sementara itu, di ranah psikomotor, BK membantu siswa mempraktikkan keterampilan hidup yang nyata: bagaimana menyampaikan pendapat dengan baik, bagaimana menyelesaikan konflik, bagaimana meminta bantuan, bagaimana mengelola waktu, dan bagaimana mengambil langkah praktis dalam menghadapi masalah. BK menghubungkan pemahaman dan perasaan dengan tindakan konkret. Dengan kata lain, BK mengajarkan siswa untuk bukan hanya mengetahui dan merasakan, tetapi juga melakukan.

Jika ketiga ranah itu dipadukan, maka BK bukan lagi dapat dilihat sebagai layanan tambahan di sekolah, melainkan sebagai inti pendidikan itu sendiri. BK membentuk cara anak berpikir, merasakan, dan bertindak dalam menjalani hidup. BK membekali anak bukan hanya dengan jawaban untuk hari ini, tetapi juga dengan kemampuan untuk mencari jawabannya sendiri di masa depan.

Karena itu, pengertian BK perlu direkonstruksi. BK di sekolah harus dipahami sebagai proses pendidikan yang membentuk manusia secara menyeluruh untuk membantu peserta didik memahami diri, mengelola emosinya, membangun nilai positif, memecahkan masalah, mengambil keputusan, dan bertindak secara mandiri dan dewasa. BK adalah ruang di mana peserta didik belajar menjadi manusia yang lebih utuh: yang berpikir jernih, merasa dengan sehat, dan bertindak bijak.

Jika kita dapat mengubah cara pandang ini, maka BK tidak lagi menjadi ruang “pemanggilan”, tetapi ruang pertumbuhan. Tidak lagi menjadi upaya terakhir, tetapi langkah pertama. Tidak lagi hanya hadir ketika masalah muncul, tetapi menjadi pendamping sepanjang perjalanan belajar dan kehidupan peserta didik. Dan mungkin, ketika cara pandang ini benar-benar hidup di sekolah, BK akan menjadi salah satu kekuatan paling berpengaruh dalam membentuk generasi yang lebih kuat, berkarakter, dan berdaya menghadapi masa depan.

 
 
 
Continue reading Rekonstruksi Pengertian Bimbingan dan Konseling di Sekolah

Monday, November 17, 2025

,

Personal Branding Untuk Remaja dan OSIS

Ilustrasi : Lupa dokumentasi

Semenjak masa kuliah, saya sudah terpapar tentang konsep "Personal Branding", khususnya semenjak kakak saya, memulai bekerja di Public Relation Agency di Jakarta. Semenjak itu saya mulai mencari referensi tentang Public Relation hingga Marketing Communication di Perpustakaan kampus, serta berani untuk membeli buku WOW Java Musikindo oleh Adrie Subono dan How To Make dan How To Make Music Your Business yang ditulis basis band Megadeth. Dasar itulah yang membangun keberanian saya untuk memulai terjun ke dunia event organizer serta manager band, walaupun tidak sukses, namun proses yang saya alami tersebut menguatkan saya tentang bagaimana diri kita harus mengemas diri kita di media yang kita miliki dengan hal-hal yang kita harapkan bagaimana kita ingin dikenal dengan harapan dapat membuat peluang sesuai dengan yang kita inginkan.

Berkaitan dengan Personal Branding, saya sepakat dengan penjelasan oleh komika Pandji Pragiwaksono, Personal branding adalah upaya mengkomunikasikan siapa diri kita kepada dunia agar mendapatkan peluang yang diinginkan. Bagi praktisi atau pakar komunikasi mungkin istilah Personal Branding tidak sesederhana diatas, namun saya yakin memiliki pemahaman yang sama. Atas kesadaran hal itu juga yang membuat saya membuat brand "Faiz Perjuangan", yang membuat banyak orang ber-asumsi bahwa saya adalah simpatisan partai moncong putih itu. Padahal brand tambahan dalam nama saya tersebut itu terinspirasi dari sebuah kalimat "Life is Struggle" atau Hidup adalah Perjuangan, juga terinpirasi dari sebuah nama band humor penyiar radio Geronimo saat itu yang bernama "Dibyo Perjuangan". Selain itu, nama tersebut sepertinya cukup senada dengan arti nama akhir saya, Mudhokhi, yang artinya adalah sebutan bagi "Orang yang berkorban" ketika hari Raya Idul Adha, kebetulan nama ini diberikan oleh Kakek saya ketika mengetahui saya lahir ketika Hari Raya Idul Adha. Selain itu, saya juga cukup sadar diri jika nama akhir saya ini cukup sering membuat orang salah tulis nama jika menuliskan ketika hanya dapat informasi secara lisan, nama yang tidak umum hehehe

Ketika suatu brand sudah tercipta, maka langkah selanjutnya adalah mengenalkan produk yang ingin kita tunjukak kepada dunia. Masih menurut Pandji Pragiwaksono, proses Personal Branding itu seperti alur dalam pertemanan, dimulai dari orang asing, lanjut mulai tahu, kemudian jadi kenal, setelahnya jadi teman, berlanjut menjadi teman main, dan semakin sering berinteraksi akan menjadi Sahabat. Karena itu saya memulai brand "Faiz Perjuangan" ini dengan membuat Sosial Media yang ada, mulai dari Friendter, Facebook, Twitter, dan sosial media lainnya. Tak lupa juga saya semenjak 2009 membeli domain yang saya pakai hingga saat ini, faizperjuangan.com, walaupun hanya menggunakan blog gratisan di blogger. Pendidikan, IT dan Sosial Media, Musik, dan Film, adalah beberapa tema yang sangat saya sukai, karena itu terkadang tema-tema itu menjadi bahan tulisan saya di sosial media, selain tulisan-tulisan "alay" yang mewarnai proses pendewasaan hidup yang cukup unik ini.

Beberapa hari yang lalu, saya akhirnya mendapatkan kesempatan untuk berbicara tentang hal ini didepan pengurus OSIS baru di sekolah tempat saya bekerja dengan sudut pandang remaja dan organisasi. Tidak banyak orang yang menyadari bahwa saya adalah seseorang yang cukup concern dengan Personal Branding, walaupun bagi beberapa orang ada yang berasumsi jika Personal Branding itu seperti pencitraan palsu, namun sesungguhnya Personal Branding adalah sebuah cara diri kamu ingin dikenal orang lain dengan cara membangun identitas diri setelah diri kita memahami konsep diri sendiri dengan segala potensinya, karenanya saya berusaha setulus mungkin untuk menunjukan diri saya, saya berusaha menunjukan diri saya apa adanya ketika berinteraksi langsung maupun melalui saluran yang saya miliki. Saya percaya jika kita tidak menentukan "brand" kita sendiri, maka orang lain yang akan melakukannya. Inilah yang menjadi dasar bahan paparan saya untuk teman-teman OSIS beberapa waktu lalu.

Sedikit banyak, keilmuan akademik saya juga mendukung saya dalam mengembangan Personal Branding yang saya miliki. Beruntung saya kuliah di Jurusan Bimbingan dan Konseling dan menjadi Guru Bimbingan dan Konseling, di area ini saya memiliki keleluasaan dalam mencari materi-materi segar yang bisa saya berikan ke murid-murid saya. Karena di era internet, Personal Branding menjadi hal yang harus sangat diperhatikan, untuk menjadi alat kontrol diri dalam menunjukan siapa dan apa diri kita melalui sosial media yang hampir semua murid memiliki sosial media. Saat ini, banyak orang yang berlomba-lomba untuk menjadi viral yang kadang secara tidak sadar dilakukan dengan berbagai cara tanpa memiliki rambu-rambu sehingga terlena dengan harapan diketahu banyak orang tanpa mempersiapkan diri jika suatu saat menjadi viral. Ketika diri tidak memiliki persiapan saat momen itu terjadi dan tidak bisa menjaga keberlangsungan rasa bangga tersebut, maka perasaan "bangga" ketika viral akan berangsur-angsur meredup, padahal setiap orang berharap setelah momen "diketahui" tersebut dapat meningkat menjadi "dikenal" bahkan menjadi "bersahabat" dengan banyak orang.

Jika diamati, banyak orang-orang viral saat ini tidak menyadari jika momen itu terjadi, yang dilanjutkan hanya dia memproduksi konten-konten yang sefrekuensi dengan konten viral sebelumnya atau menambah dengan membuka jasa endorse atau jualan produk afiliate dengan keranjang kuning atau semacamnya. Padahal ada pekerjaan rumah lain yang harus dikembangkan ketika momen itu muncul, yaitu dengan mengembangkan produk (diri) dan membuka diri keluar dari akun sosial media dirinya dengan menunjukkan potensi lain dirinya serta berkolaborasi dengan pihak-pihak lain yang diharapkan dapat menjadi keberlangsungan viral dirinya. Berkaitan dengan hal ini, saya menyarankan Anda untuk menonton video Pandji Pragiwaksono dengan judul "Dari Video Viral Sampai Karir Eternal", ada hal yang mungkin lebih menarik dan informatif dari tulisan saya ini.

Pada akhirnya, siapapun Anda, menurut saya dapat memulai mengembangkan Personal Branding dengan segala rutinitas yang biasa Anda lakukan, lakukan saja apa dengan tulus dengan tetap mempersiapkan diri jika momen viral itu datang. Terkadang hal yang paling dekat diri sendiri dan hanya terjadi pada diri Anda memiliki potensi viral paling besar. Lalu, bagaimana dengan diri saya?! Tentu saja saya hanya sekedar menulis atau membuat konten yang menurut saya menarik dan tentu saja berusaha untuk konsisten menunjukkan apa saja potensi yang ada dalam diri saya.

Terima kasih sudah membaca, semoga bermanfaat 😁

Link canva


Continue reading Personal Branding Untuk Remaja dan OSIS