Saturday, November 29, 2025
Monday, November 17, 2025
Personal Branding Untuk Remaja dan OSIS
Semenjak masa kuliah, saya sudah terpapar tentang konsep "Personal Branding", khususnya semenjak kakak saya, memulai bekerja di Public Relation Agency di Jakarta. Semenjak itu saya mulai mencari referensi tentang Public Relation hingga Marketing Communication di Perpustakaan kampus, serta berani untuk membeli buku WOW Java Musikindo oleh Adrie Subono dan How To Make dan How To Make Music Your Business yang ditulis basis band Megadeth. Dasar itulah yang membangun keberanian saya untuk memulai terjun ke dunia event organizer serta manager band, walaupun tidak sukses, namun proses yang saya alami tersebut menguatkan saya tentang bagaimana diri kita harus mengemas diri kita di media yang kita miliki dengan hal-hal yang kita harapkan bagaimana kita ingin dikenal dengan harapan dapat membuat peluang sesuai dengan yang kita inginkan.
Berkaitan dengan Personal Branding, saya sepakat dengan penjelasan oleh komika Pandji Pragiwaksono, Personal branding adalah upaya mengkomunikasikan siapa diri kita kepada dunia agar mendapatkan peluang yang diinginkan. Bagi praktisi atau pakar komunikasi mungkin istilah Personal Branding tidak sesederhana diatas, namun saya yakin memiliki pemahaman yang sama. Atas kesadaran hal itu juga yang membuat saya membuat brand "Faiz Perjuangan", yang membuat banyak orang ber-asumsi bahwa saya adalah simpatisan partai moncong putih itu. Padahal brand tambahan dalam nama saya tersebut itu terinspirasi dari sebuah kalimat "Life is Struggle" atau Hidup adalah Perjuangan, juga terinpirasi dari sebuah nama band humor penyiar radio Geronimo saat itu yang bernama "Dibyo Perjuangan". Selain itu, nama tersebut sepertinya cukup senada dengan arti nama akhir saya, Mudhokhi, yang artinya adalah sebutan bagi "Orang yang berkorban" ketika hari Raya Idul Adha, kebetulan nama ini diberikan oleh Kakek saya ketika mengetahui saya lahir ketika Hari Raya Idul Adha. Selain itu, saya juga cukup sadar diri jika nama akhir saya ini cukup sering membuat orang salah tulis nama jika menuliskan ketika hanya dapat informasi secara lisan, nama yang tidak umum hehehe
Ketika suatu brand sudah tercipta, maka langkah selanjutnya adalah mengenalkan produk yang ingin kita tunjukak kepada dunia. Masih menurut Pandji Pragiwaksono, proses Personal Branding itu seperti alur dalam pertemanan, dimulai dari orang asing, lanjut mulai tahu, kemudian jadi kenal, setelahnya jadi teman, berlanjut menjadi teman main, dan semakin sering berinteraksi akan menjadi Sahabat. Karena itu saya memulai brand "Faiz Perjuangan" ini dengan membuat Sosial Media yang ada, mulai dari Friendter, Facebook, Twitter, dan sosial media lainnya. Tak lupa juga saya semenjak 2009 membeli domain yang saya pakai hingga saat ini, faizperjuangan.com, walaupun hanya menggunakan blog gratisan di blogger. Pendidikan, IT dan Sosial Media, Musik, dan Film, adalah beberapa tema yang sangat saya sukai, karena itu terkadang tema-tema itu menjadi bahan tulisan saya di sosial media, selain tulisan-tulisan "alay" yang mewarnai proses pendewasaan hidup yang cukup unik ini.
Beberapa hari yang lalu, saya akhirnya mendapatkan kesempatan untuk berbicara tentang hal ini didepan pengurus OSIS baru di sekolah tempat saya bekerja dengan sudut pandang remaja dan organisasi. Tidak banyak orang yang menyadari bahwa saya adalah seseorang yang cukup concern dengan Personal Branding, walaupun bagi beberapa orang ada yang berasumsi jika Personal Branding itu seperti pencitraan palsu, namun sesungguhnya Personal Branding adalah sebuah cara diri kamu ingin dikenal orang lain dengan cara membangun identitas diri setelah diri kita memahami konsep diri sendiri dengan segala potensinya, karenanya saya berusaha setulus mungkin untuk menunjukan diri saya, saya berusaha menunjukan diri saya apa adanya ketika berinteraksi langsung maupun melalui saluran yang saya miliki. Saya percaya jika kita tidak menentukan "brand" kita sendiri, maka orang lain yang akan melakukannya. Inilah yang menjadi dasar bahan paparan saya untuk teman-teman OSIS beberapa waktu lalu.
Sedikit banyak, keilmuan akademik saya juga mendukung saya dalam mengembangan Personal Branding yang saya miliki. Beruntung saya kuliah di Jurusan Bimbingan dan Konseling dan menjadi Guru Bimbingan dan Konseling, di area ini saya memiliki keleluasaan dalam mencari materi-materi segar yang bisa saya berikan ke murid-murid saya. Karena di era internet, Personal Branding menjadi hal yang harus sangat diperhatikan, untuk menjadi alat kontrol diri dalam menunjukan siapa dan apa diri kita melalui sosial media yang hampir semua murid memiliki sosial media. Saat ini, banyak orang yang berlomba-lomba untuk menjadi viral yang kadang secara tidak sadar dilakukan dengan berbagai cara tanpa memiliki rambu-rambu sehingga terlena dengan harapan diketahu banyak orang tanpa mempersiapkan diri jika suatu saat menjadi viral. Ketika diri tidak memiliki persiapan saat momen itu terjadi dan tidak bisa menjaga keberlangsungan rasa bangga tersebut, maka perasaan "bangga" ketika viral akan berangsur-angsur meredup, padahal setiap orang berharap setelah momen "diketahui" tersebut dapat meningkat menjadi "dikenal" bahkan menjadi "bersahabat" dengan banyak orang.
Jika diamati, banyak orang-orang viral saat ini tidak menyadari jika momen itu terjadi, yang dilanjutkan hanya dia memproduksi konten-konten yang sefrekuensi dengan konten viral sebelumnya atau menambah dengan membuka jasa endorse atau jualan produk afiliate dengan keranjang kuning atau semacamnya. Padahal ada pekerjaan rumah lain yang harus dikembangkan ketika momen itu muncul, yaitu dengan mengembangkan produk (diri) dan membuka diri keluar dari akun sosial media dirinya dengan menunjukkan potensi lain dirinya serta berkolaborasi dengan pihak-pihak lain yang diharapkan dapat menjadi keberlangsungan viral dirinya. Berkaitan dengan hal ini, saya menyarankan Anda untuk menonton video Pandji Pragiwaksono dengan judul "Dari Video Viral Sampai Karir Eternal", ada hal yang mungkin lebih menarik dan informatif dari tulisan saya ini.
Pada akhirnya, siapapun Anda, menurut saya dapat memulai mengembangkan Personal Branding dengan segala rutinitas yang biasa Anda lakukan, lakukan saja apa dengan tulus dengan tetap mempersiapkan diri jika momen viral itu datang. Terkadang hal yang paling dekat diri sendiri dan hanya terjadi pada diri Anda memiliki potensi viral paling besar. Lalu, bagaimana dengan diri saya?! Tentu saja saya hanya sekedar menulis atau membuat konten yang menurut saya menarik dan tentu saja berusaha untuk konsisten menunjukkan apa saja potensi yang ada dalam diri saya.
Terima kasih sudah membaca, semoga bermanfaat 😁
Monday, September 22, 2025
Kita Memiliki Potensi, Namun Terkadang Kita Tidak Menyadari
Kegiatan dimulai dengan ice breaking untuk saling mengenal, dimulai dengan perkenalan dilanjutkan dengan berkelompok sesuai dengan makanan kesukaan, serta diakhiri dengan saling menceritakan apa yang dilakukan selama sehari ketika menjadi Guru Bimbingan dan Konseling dan ternyata banyak hal-hal yang menarik, karena semua peserta berusaha untuk mengucapkan dengan bahasa inggris. Saya pribadi juga menyadari jika kemampuan speaking saya sangat terbatas, terbatas karena adanya perasaan takut untuk mengucapkan, takut salah, dan sebagainya. Tapi pelan-pelan, saya berusaha...i try.
Kegiatan selanjutnya adalah dengan mengelompokkan diri agar bisa memunculkan sesi diskusi dalam kelompok kecil. Ada beberapa hal yang kami diskusikan, dimulai dengan menggali situasi dan kondisi yang ada disekolah, mulai dari tentang kondisi lingkungan, hingga dukungan sistem atau stakeholder khusunya dalam menghadapi siswa yang membutuhkan bantuan dengan kondisi kesehatan mentalnya. Banyak hal yang menarik muncul disini, karena masing-masing memiliki pendapat yang berbeda satu sama lain, walaupun kami mengerjakan pertanyaan yang sama namun masing-masing bisa memiliki hal yang berbeda. Dalam sesi ini juga memunculkan beberapa pernyataan yang menarik dan membangun kesadaran saya bahwa sesungguhnya kita memiliki potensi, dan kegiatan ini sebetulnya untuk memercikkan semangat untuk dapat mengubah.
Hari ini menurut saya adalah Hari H, hari untuk dapat belajar lebih banyak dari sebelumnya dengan sudut pandang yang lebih luas. Harapan saya, dengan adanya hari ini dapat semakin menyadari jika kedepan sesungguhnya saya mampu. Untuk menutup cerita hari ini, Ini sekedar foto Mr Andrew in action.
Sunday, September 21, 2025
Upgrade Kemampuan Konseling agar dapat Melayani Murid dengan Baik
Saturday, September 20, 2025
Semangat Untuk Berguna Bagi Orang Lain (Sebuah Refleksi untuk Selalu Belajar)
"Nama saya Faiz Mudhokhi. Saya tumbuh dengan keyakinan sederhana: hidup ini adalah kesempatan untuk memberi manfaat atau dalam bahasa jawa “migunaning tumraping liyan”. Keyakinan itu yang akhirnya membawa saya menjadi seorang Guru Bimbingan dan Konseling (BK) di SMKN 3 Yogyakarta, sekolah yang penuh dengan dinamika, cerita perjuangan siswa, dan harapan besar orang tua."
Begitu paragraf pertama yang saya tulis dalam esai personal statemen yang saya buat untuk mengikuti seleksi Program Pelatihan Teknik Bimbingan dan Konseling yang diadakan oleh Dirjen GTKPG Kemendikdasmen yang bekerja sama dengan LPDP dan pematerinya nanti dari Monash University Australia. Sebuah pelatihan yang persyaratannya menurut saya cukup menantang; mulai dari persyaratan toefl itp minimal 450, IPK S1 harus diatas 3,00; menurut saya kedua syarat ini sudah sangat mampu menyaring orang-orang untuk mendaftar. Bagi saya yang masuk kuliah ditahun 2003 dan lulus kuliah pada tahun 2009, IPK diatas 3,00 menurut saya hanyalah orang-orang ter-rajin terpilih saja, karena dia pasti ketika kuliah selalu rajin dan bahkan bisa jadi mereka orang-orang yang termasuk lulus S1 cukup 4 tahun saja, tidak seperti saya. Namun untung saja IPK saya pas banget untuk melebihi syarat tersebut, lebih 0,01 saja.
Jika berkaitan dengan angka toefl, bagi saya sih saya merasa itu bisa diusahakan dengan belajar saat ini, tidak dengan IPK yang jelas-jelas sudah sangat lampau untuk usaha merubahnya, walaupun IPK S2 saya 3,8 pas dan itu tidak bisa dipakai menjadi syarat agar mungkin saya bisa punya nilai plus karena IPK saya tinggi. Maka dengan bekal yang mepet, karena alhamdulillah Toefl ITP saya adalah 497 jadi saya punya standart minimal dan saya sedikit percaya diri untuk daftar, tak lupa restu atasan juga sangat dibutuhkan, maka saya juga sangat bersyukur jika atasan saya mengizinkan saya untuk mengikuti seleksi ini.
Proses seleksi ini menurut saya sangat cepat, tidak sampai 1 minggu, tiba-tiba ada invitation group WA masuk di group Seleksi Wawancara pelatihan ini, jelas-jelas saya sangat bersyukur, namun juga semakin tidak percaya diri karena proses wawancara menggunakan bahasa inggris. Setelah jadwal wawancara keluar, ada beberapa strategi yang segera saya lakukan, yaitu segera menterjemahkan esai yang sudah saya tulis, karena sepertinya ada keyakinan jika wawancara besok materinya adalah apa yang sudah saya tulis, dengan bekal itu saya bersiap-siap menghadapi wawancara.
Proses wawancara ini berlangsung kurang lebih 30 menit, dengan percakapan full bahasa inggris. Walaupun pewawancara bukan native, tapi cara beliau bertanya terdengar sangat-sangat fasih bahasa inggris. Untung saja, semua pertanyaan yang diberikan saya paham dan saya berusaha menjawab dengan bahasa inggris yang secara grammar acak-adul dan cenderung berulang-ulang jawabannya. Menurut saya, semua pertanyaannya bisa dikatakan hampir sama, sehingga vocab yang keluar dari mulut saya ya itu-itu saja, jelas-jelas terasa minim kosa kata. Sesi wawancara ini saya akhiri dengan rasa semangat dan antusias sekali, pasalnya ini adalah momentum pertama saya mengalami wawancara dengan full bahasa inggris, dan tentu saja dengan perasaan nothing to lose, karena saya merasa sesi wawancaranya yang dialami berantakan cara saya menjawab, tapi ya sudahlah...jika rejeki tidak kemana, walaupun juga berharap.
Kamis, 18 September 2025, Pukul 14.02 WIB, tiba-tiba saya dijapri panitia Pelatihan ini, dikirimi link Pelatihan Teknis Bimbingan dan Konseling. Karena saya sudah menyimpan nomor ini, saya langsung join saya sambil berharap-harap cemas. Karena penasaran, saya chat di group dan menanyakan apakah ini tidak salah kirim link join group? Apakah ini berarti saya lolos?, alhamdulillah tak selang berapa lama panitia mengkonfirmasi jika yang berada digroup tersebut adalah peserta yang lolos pelatihan. Saya..sangat...tidak...menyangka!!
Agar tidak punya banyak ekspektasi dalam proses belajar nanti, saya meyakinkan diri ini mungkin saya diterima pasti adalah nomor terakhir kemampuan bahasa inggrisnya. Saya yakin semuanya sangat jago-jago bahasa inggris, dan ini lah tantangan pertama saya dalam menghadapi pelatihan ini. Saya harus semangat untuk belajar lagi, terutama bahasa inggris. Semangat ini membuat saya untuk berusaha mempersiapkan diri dengan baik, salah satunya dengan berusaha komitmen untuk membuat tulisan diblog sebagai bentuk refleksi harian saya dalam mengikuti pelatihan ini.
Dalam proses ini, saya jelas-jelas tidak mungkin hanya pasrah dan mengikuti alurnya saja, ada usaha keras untuk meraihnya. Mulai dari meluangkan waktu untuk menyiapkan berkas-berkasnya, berusaha keras untuk menulis esai dengan jujur dan sesuai dengan kondisi, belajar keras untuk mendapatkan sertifikat bahasa inggris baru di English Score yang ternyata sangat gampang sekali membuat sertifikat bahasa inggris yang diakui serta lebih murah daripada toefl dan bisa dilakukan dirumah, belajar untuk bicara bahasa inggris dengan berusaha memahami kembali esai yang saya tulis dan translate sebagai modal saya untuk wawancara, semuanya adalah sebuah proses pembelajaran yang harus saya alami untuk bisa mengikuti pelatihan ini.
"Bagi saya, pelatihan bukan hanya kesempatan untuk mengembangkan diri, tetapi juga janji untuk membawa pulang sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak.", kalimat ini adalah salah yang tulis dijelang akhir tulisan saya. Saya ingin bisa membagikan apa yang sudah saya raih kepada orang lain, atau pun mempraktekan ilmu yang saya dapatkan untuk profesia saya, Guru Bimbingan dan Konseling. Ini adalah harapan saya, dan saya akan mencobanya. Bismillah...






